Senin, 25 September 2017

Izinkan Aku Menyerah

Kamu, tamuku yang tak diundang.
Kamu, tamu yang memaksa merangsek masuk ke sudut hatiku yang terdalam.
Kamu, mengapa dengan teganya membawaku sampai di situasi ini?
Hingga membuatku terperangkap jaring perasaanku sendiri.
Sekarang, apa kamu bisa bertanggung jawab atas semua? TIDAK, kamu justru membiarkanku menanggung keping-keping hati yang berhamburan ini seorang diri.

Kamu selalu mengalirkan rasa ini hingga aku tak mampu menyurutkan arusnya.
Entahlah, semua semakin rumit.
Tanpa sengaja perasaan ini menggoreskan luka yang tak mampu aku obati sendiri.
Jika kamu bertanya, apa aku marah? Tentu.
Aku marah pada diriku sendiri yang tak kunjung berjalan mundur.
Dan jika kamu bertanya, apa aku membencimu? Oh tentu tidak, karena jika aku membencimu, bayangmu akan semakin terlihat dalam pikiranku.

Menemanimu, mungkin hal tersia-sia yang tetap menjadi hobi favoritku.
Tapi sekarang, izinkan aku menghapus hobi itu dari daftar favoritku.
Cukup sampai detik ini saja kamu mengobrak-ngabrik hatiku.
Memang, masa depan tiada yang tahu.
Semua telah diatur oleh yang Maha membolak-balikkan hati.
Tapi, jika nanti aku harus dipaksa berjuang oleh Rabb-ku, apa mau dikata, aku hanya bisa pasrah.
Tapi untuk saat ini, izinkan aku menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar