Sabtu, 03 Februari 2018

#16

Hal pertama yang ia ajarkan setelah perpisahan adalah menghapus air mata. 
Karena rasa sakit mungkin akan hilang, luka akan sembuh, tapi dendam dan penyesalan akan selalu ada. 
Ia abadi, tak peduli sejauh dan secepat apa kamu berlari, sembunyi, dan berkata baik-baik saja.

“Aku akan mendoakan kebaikanmu,” katanya.
Tapi kita tahu, doa tak pernah mengubah apa-apa. 
Ia serupa harapan, Semacam peristiwa iseng-iseng berhadiah, jika kena syukurlah, jika tidak sudahlah. Sementara nasib tidak seperti itu. Nasib bukan potongan jahe yang kau kira rendang, nasib bukan potongan kerikil yang ikut terkunyah di nasi gorengmu. 
Nasib adalah apa yang kamu perjuangkan dengan keras kepala. Sementara kau gemar menyerah.
Seperti babi yang menyerahkan lehernya untuk dijagal. 
Seperti sekumpulan sapi ternak yang menunggu diperah. 
Seperti bola pingpong yang mengambang di udara, menunggu dipukul keras.

“Kamu mesti memaafkan dirimu sendiri,” katanya.
Akan lebih mudah memaafkan diri sendiri jika kamu tahu apa kesalahanmu. 
Sementara kamu tidak bisa meminta maaf karena menjadi dirimu sendiri. 
Kamu sedang berusaha jujur, tidak ingin munafik, tidak sedang menggunakan topeng, tapi orang lain tak suka itu. 
Tapi mungkin kamu benar.  Ia benar. Ia selalu benar
Kamu tahu rasanya berharap? Seperti pohon pisang yang dipukul dengan pipa besi. 
Tubuhnya tidak akan langsung tumbang. Pada pukulan pertama ia akan tegak berdiri, daun-daun guncang, tapi ia akan bertahan. Terus demikian hingga kau mengalami pukulan ke seratus. 
Tubuh yang kau kira sekuat pohon  itu beringin akan tumbang. Mencium tanah. Lantas kalah.
Tapi kamu tahu? Pohon pisang punya akar, tidak kuat, tapi ulet dan liat. Ia mungkin akan tercerabut. Tapi selama sebagian dirinya masih menyentuh tanah, ia akan tumbuh, ia akan hidup lagi, ia akan bangkit lagi, setelahnya kamu boleh memukulnya lagi. Seperti itu yang dinamakan harapan.

“Seperti Florentino Ariza?” katanya.
Tidak. Tapi seperti Gollum. Seperti Sméagol.
“Tapi bukankah ia mati menderita?” katanya lagi.
Menderita? Bersama sesuatu.yang ia cintai. Bersama sesuatu yang telah merengkuh dan menaklukan hatimu hingga akhir hayat kau sebut menderita? Jika iya, aku tak ingin bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar