Kamu tidak harus menerima perpisahan ini. Bahkan kamu boleh berharap bahwa perpisahan ini tidak terjadi.
Yang tak boleh kamu lakukan adalah memaksanya kembali.
Ia sudah bahagia, dengan atau tanpa dirimu, toh ia baik baik saja.
Benarkah kamu ingin kembali? Benarkah keinginanmu itu didasari oleh perasaan cinta? Jangan jangan ia hanya rasa iba atas kesalahan yang kamu buat.
Jika kamu iba, betapa jahatnya kamu? Bukankah tiap tiap perasaan semestinya diberikan kesempatan untuk jujur?
Lantas kamu merasa perlu memberinya iba, kembali untuk mencintainya atas dasar rasa kasihan.
Tentu saja kamu merasakan kesepian.
Tentu kamu merasa pedih.
Merasa bahwa kamu telah membuat kesalahan yang demikian gawat.
Tapi bukankah itu sudah terjadi? Ia sudah kamu lukai, lantas ia perlahan berdiri, perlahan mengobati hatinya sendiri.
Ia kini sudah bisa menghadapi hidupnya sendiri tanpamu.
Lalu apa hakmu untuk merusak itu semua?
Kamu berharap bisa melupakannya.
Kamu berharap bahwa ia akan memanggilmu kembali, menghubungimu, kalian baikan dan memulai segalanya dari awal lagi.
Tapi kamu tahu itu mustahil.
Tidak dengan segala kedunguan yang kamu perbuat.
Tidak dengan segala kesalahan yang masih saja kamu ulangi.
Kamu hampir tidak pernah belajar.
Kamu masih saja menyakiti orang lain, menyakiti orang yang menyayangimu dan menyakiti dirimu sendiri.
Kamu merasa hanya dengan menyakiti diri sendiri kamu akan terbebas dari rasa bersalah.
Tapi perasaan bersalahmu selalu ada, ia selalu ada, akan selalu ada selama kamu belum memaafkan dirimu sendiri.
Kamu berusaha melupakan dia dengan berbagai hal. Alkohol, musik, film, seks dan banyak hal. Tapi kamu tahu itu tidak berguna.
Setiap malam, ketika kamu terbangun dini hari, dengan keringat membasahi baju, hal pertama yang kamu ingat adalah senyumannya.
Kamu menangis perlahan, tapi kamu sadar, tangisanmu tidak akan mengubah apapun.
Kamu berpikir kamu telah mengahiri semuanya. Selesai berharap dan mengemasi setiap perasaan yang ada.
Itu semua omong kosong.
Kepala dan ingatan mengkhianati usahamu untuk melanjutkan hidup.
Pelan pelan ketika lagu Can't Take My Eyes Off You diputar kamu mengingatnya.
Ketika kamu naik motor, ingatanmu tentangnya muncul.
Pelan pelan kamu dijajah kenangan, dipaksa menyerah oleh dirimu sendiri.
Tapi bukankah hidup perihal melupakan dan dilupakan? Kamu berusaha melupakan dan kamu telah dilupakan.
Ia telah bahagia dan kamu disiksa kebencianmu sendiri.
Kemarahan yang kamu pelihara tanpa alasan. Hingga akhirnya kamu membusuk.
Berubah menjadi monster yang menyakiti siapapun yang berusaha menyelamatkanmu dari penyesalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar