Selasa, 01 Januari 2019

Aku Masih Ada

Aku Masih Ada

Hai, bagaimana kabarmu?
Aku sedang berdiri di tepi gedung sembari berkelakar kamu sedang apa di tempat yang tidak mampu kujangkau.
Namun aku masih mengimani bahwa mungkin saja kamu masih teringat tentang kita.

Aku ingat, dahulu, kamu menjelaskan bahwa sebuah ilmu tidak terbatas.
Matematika, Fisika, Bahasa, dan Pelajaran pelajaran yang banyak diabaikan pelajar.
Manusialah yang menciptakan batas itu dengan perilaku yang pemalas.

Katamu, percuma saja manusia menciptakan sistem jika mental manusia itu sendiri masih gemar merasa tidak berdosa untuk melanggar. Kamu selalu cerita betapa sebal melihat pelajar-pelajar yang mengklaim dirinya lebih hebat dari guru nya, karena ia tak mau mendengarkan apa yg guru nya jelaskan.

Aku tak dapat menahan ledakan tawa setiap kali melihat wajah sebalmu yang memerah saat menjelaskan hal itu berulang kali, tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya.
Telingaku tak sabar menunggu tiap desibel suara beratmu saat kamu hendak berbicara.
Pupil mataku selalu membesar dan takjub melihat eksperesi wajah ngambek mu saat aku terkadang meledek cerita mu.

"Kadang aku ingin menjadi seekor burung yang bisa terbang jauh dan hinggap di dahan pohon hanya untuk melihatmu"

Aku tidak lagi secengeng dulu, saat awal-awal kamu baru saja pergi.
Aku sudah kebal dihantam rindu setiap kali teringatmu, terlebih ketika melihat berpasang-pasang manusia memamerkan kemesraannya.
Sering muncul keraguan besar tentang pertanyaan-pertanyaan retoris, apakah kau masih mencintaiku?
Namun, berbicara tentang batas, terkadang kita harus realistis, kan? Kita harus melangkah maju untuk melanjutkan kehidupan.
Tidak terpaku pada satu titik yang membuat kita selalu menengok ke belakang dan berdiri statis tanpa arah dan tujuan.

Kamu harus memahfumi bahwa setiap penantian membutuhkan jawaban atas segala kapan.
Sebab kita tidak bisa memesan kepastian kepada waktu.

Beberapa hal memang lebih baik tidak terjawab, dan yang tidak terjawab pun kadang adalah sebuah jawaban.
Detik selalu berpacu ke depan dan aku tidak berjalan mundur dan tertinggal jauh, lalu terjebak dalam muara kesedihan yang mengorbankan kebahagiaan.

Jadi, aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku ke depan.
Meninggalkan satu per satu hal yang berkorelasi dengan kita.
Menanggalkan kenangan indah dan rencana masa depan yang dahulu kita diskusikan di bawah langit malam, di atas jok motor ku sambil menyebut rasi bintang.

Kaulah satu-satunya wanita yang belum pernah sekali pun menyakitiku.
Itulah sebabnya Ibuku pun menyayangimu.

Aku akan mencintaimu sampai waktu menuntut dan menuntun melupakanmu sampai kegagalan tak lagi berlaku.
Dan bila hari itu tiba, sudah sepantasnya kuucapkan selamat datang mulai dari sekarang. Aku takut tidak sempat mengucapkannya, seperti halnya kamu yang tidak sempat mengucapkan janji untuk kembali.

Bila suatu hari kita bertemu dan ingatanmu kembali, kumohon jangan ada benci yang membuat kita menjadi asing.
Aku ingin kita saling memamerkan senyum bahagia, ya. Aku mau kita sama-sama bertukar cerita tentang pengalaman selama kamu pergi, atau kita jodohkan saja anak kita kelak?
Ini bukan ide gila, kan? Aku sudah waras kok.

Sebenarnya aku tidak berharap besar, namun sudikah kiranya kuharap kita menjadi dua orang yang mengakhiri peluk dan cium untuk kisah yang penuh kasih sebagai sahabat.
Aku masih menanamkan kepercayaan, walaupun di dalam kepalamu tidak ada secuil pun ingatan tentang aku, tapi di relung hatimu, aku masih ada.
Masih ada.
Ya, masih ada.
Meski dalam ketidakmungkinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar