Semoga kita masih berteman setelah pemilu berakhir.
Kalimat pertama itu mungkin sudah mewakilkan keresahan sebagian teman yang membaca tulisan ini. Sebagian lagi, mungkin menjadi Apatis karena berbeda pilihan dengan temannya karena merasa pilihan dia yang paling benar.
Semoga kita masih berteman setelah pemilu berakhir.
Pesta Demokrasi telah tiba, pesta 5 tahun sekali untuk menentukan siapa yang akan memimpin Republik Indonesia untuk 5 tahun kedepan.
Setiap saat dalam hidup ini menawarkan pilihan, dan konsekuensi dari memilih adalah berbeda,
Naif rasanya jika hanya karena berbeda pilihan dalam pemilu menjadi penyebab permusuhan.
Jika kita sudah pernah melewati banyak perbedaan dan masih bisa berjalan bersama, mengapa untuk hal yang satu ini tidak bisa?
Semoga kita masih berteman setelah pemilu berakhir.
Lalu, apa yang kita dapatkan jika masih saling Apatis karena berbeda pilihan? Nihil. Kita selalu di anggap bodoh oleh mereka. Itulah mengapa mereka masih suka melempar hal-hal dan isu yang sama, karena masih efektif untuk memecah.
Dimanapun fanatisme mempunyai panggung, maka disitu narasi perpecahan dibuat.
Kalian mungkin muak melihat interaksi di media sosial? Sama. Semua hidup dalam ketakutan. Takut jika apa yang dipilih ternyata salah, lalu berusaha menyalahkan apa yang dipercaya orang lain. Narasi nya pun selalu sama, kelemahan dicari, kesalahan digali, sedangkan kebenaran mereka kubur layaknya bangkai.
Semoga kita masih berteman setelah pemilu berakhir.
Bagaimanapun hasil nya nanti, entah pilihan aku atau kamu yang menang. Kita harus saling mendoakan, mendoakan agar Republik ini aman, nyaman, dan makmur. Karena pada akhirnya, hidup ini hanya tentang kita dan apa yang kita pilih. Dan kita hanya akan menjalani kehidupan sebagaimana biasanya sebelum pemilu ini datang lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar