Senin, 18 Maret 2024

Metánoia #000

Vano memilih pergi dari rumah nya setelah dinyatakan drop out dari sekolah SMK nya karena masalah yang dialami nya. Vano pergi dengan membawa derita anak pertama yang ditanggung dalam kebisuan, dan beban untuk membayar rasa kecewa kedua orang tua nya karena sudah gagal dalam pedidikannya.


Beberapa tahun "petualangan" nya membayar rasa kecewa kedua orang tuanya, Vano bertemu dengan wanita bernama Clara Evania, wanita yang dapat merubah sifatnya menjadi lebih dewasa.

Hingga ia dihadapkan oleh rasa kecewa karena Clara lebih memilih menikah dengan mantan pacarnya. Sehingga membuat Vano memutuskan untuk bekerja diluar negeri demi melupakan Clara wanita tersayangnya.


****

#000 PROLOG

"Vano, besok panggil orangtua kamu ke sekolah!" Seru pak Wijaya kepada Vano.

"Pak, emangnya gabisa selesai disini aja pak kasusnya? gausah sampe panggil orangtua saya pak." Vano memelas kepada pak Wijaya kepala sekolahnya.

"Gabisa. Kamu udah berkali-kali bikin kasus kaya begini, gaada kapoknya kamu."

"Yaudahlah pak, besok saya ajak orangtua saya ke sekolah."

"saya pamit dulu ya pak." Sambung Vano, seraya mencium tangan pak Wijaya.

Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah. Vano langsung pulang menuju kerumah menggunakan sepeda motor matic pemberian ayahnya.

Setelah sampai dirumah, Vano langsung memberi tahu ibunya jika ia disuruh pak Wijaya untuk membawa orangtua nya ke sekolah esok hari.

"Mah, besok Vano disuruh ajak mamah ke sekolah."

"Astagfirullah, Kamu bikin masalah apalagi Van disekolah?." Seru bu Saras.

Memang bukan hanya sekali, Vano disuruh membawa orangtua nya ke sekolah. Karena Vano memang terkenal sering buat kasus disekolah nya. Mulai dari bolos sekolah berhari-hari, Merokok di lingkungan sekolah, sampai tawuran antar sekolah pun pernah ia lakukan.

"Vano ketangkep warga mah pas tawuran, terus dibebasin sama pihak sekolah." Vano coba menjelaskan kasusnya kali ini yang membuat dia harus mengajak orangtua nya untuk ke sekolah.

"Kamu tuh bener-bener ya, gaada kapoknya banget. Kamu ga kasihan sama mamah emang?." Bu Saras seakan sudah menyerah dengan Vano karena sering sekali anaknya ini membuat kasus di sekolahnya.

"Iya mah, maaf Vano sering bikin mamah kecewa." Vano sudah bisa berkata apa-apa lagi untuk meminta maaf kepada mamahnya.


****


Esok harinya, Vano dan bu Saras pergi ke sekolah untuk bertemu pak Wijaya, setelah sampai disekolah, mereka pun langsung menuju ruang kepala sekolah untuk bertemu pak Wijaya. 

"Permisi pak." Bu Saras pun lantas mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.

"Eh bu Saras, masuk bu." Pak Wijaya menyambut kedatangan bu Saras dan Vano seraya memberikan jabatan tangan ke bu Saras.

"Silahkan duduk bu Saras, dan Vano."

"Jadi gimana pak? anak saya Vano buat kasus apalagi disekolah?". Walaupun sudah tahu kasus apa yang dilakukan oleh Vano. Bu Saras tetap bertanya ke pak Wijaya sebatas untuk basa-basi.

"Jadi Vano ini kemarin tawuran bu, dan dia ditangkap warga yang kemudian warga menyerahkan ke pihak sekolah bu." Pak Wijaya coba menjelaskan.

"Dan karena ini sudah bukan yang pertama kali Vano berbuat ulah. Dan sudah mengulangi berkali-kali kasus yang sama. Kami dari pihak sekolah sudah tidak bisa lagi bu menerima Vano disekolah ini." Sambung pak Wijaya.
"Maksudnya sudah tidak bisa menerima Vano lagi gimana ya pak?". Tanya bu Saras yang merasa bingung dengan penjelasan pak Wijaya.
"Iya dengan berat hati, kami dari pihak sekolah memutuskan untuk drop out Vano dari sekolah bu."
"Maaf pak, memangnya sudah tidak bisa diberi kesempatan untuk Vano?".
"Soalnya Vano sudah kelas 12 kan pak sebentar lagi lulus." Bu Saras memohon agar Vano masih diberi kesempatan.
"Sudah tidak bisa bu, kami sudah diskusikan bersama dengan guru guru lain dan dewan sekolah. Vano sudah terlalu sering berbuat ulah dan mencoreng nama sekolah."
Mendengar pernyataan dari pak Wijaya, Vano seolah diterpa oleh petir di siang bolong.
Perasaannya campur aduk. Bagaimana tidak, Vano merupakan anak sulung dikeluarga nya.
Ia mempunyai 3 orang adik yang dimana usia nya berjarak 5 tahun antar setiap anak.
Impiannya untuk membantu ekonomi keluarga setelah lulus sekolah pun seakan sirna dalam pernyataan pak Wijaya barusan.
Mimpinya untuk membanggakan orangtua nya dan menjadi contoh yang baik untuk adik-adik nya pun serasa hilang seketika.
"Yasudah pak, saya minta maaf bila anak saya sudah terlalu sering berbuat onar dan membuat jelek nama sekolah selama ini. Semoga ini bisa jadi pelajaran agar Vano berubah kedepannya." Ujar bu Saras.
"Kalau begitu kami izin pamit pak." Sambung bu Saras seraya berjabat tangan dan beranjak dari ruangan kepala sekolah.

Bu Saras dan Vano pun meninggalkan sekolah untuk menuju rumah.
Tidak banyak obrolan yang terjadi saat perjalanan pulang. Bu Saras cenderung diam karena terlampau kecewa terhadap Vano, anaknya.
Sementara Vano hanya diam sambil meratapi bagaimana jalan hidupnya setelah dia di drop out dari sekolahnya.
Vano tersadar perbuatannya selama ini membuat rasa kecewa yang besar dikedua orangtua nya. Mimpinya pun menjadi sangat sulit untuk digapai.
Vano merasa malu karena pastinya kabar drop out nya pasti akan menjadi topik hangan dikalangan ibu-ibu saat berbelanja sayur. Atau sekumpulan ibu-ibu yang hobby rumpi di lingkungan rumahnya.
Bagaimana tidak, Vano tinggal di lingkungan perkampungan, yang dimana kabar sekecil apapun pasti akan cepat tersebar ke seluruh penjuru. Bagaikan angin yang membawa debu kecil terbang ke seluruh penjuru tempat.

Setelah sampai dirumah tidak banyak yang dibicarakan, hanya ayah Vano yang biasa terkesan cuek menyampaikan rasa kecewanya terhadap Vano anaknya.
Hari berlalu hanya dilewati Vano didalam kamarnya dan merenung akan masa depannya.
Hingga saat malam hari ia memutuskan untuk tidak mau merepotkan orangtua nya lagi. Dan ingin mencari pekerjaan diluar rumah untuk menebus dosa-dosa nya kepada kedua orangtuanya.
Vano merencanakan untuk bertemu Erik. Sahabat sekaligus kakak kelasnya disekolah yang sudah lulus.


=======================================================================


Part lanjutannya akan segera mungkin diupload.
Tolong berikan pendapat atau kritik dan saran bila ada, agar cerita ini menjadi lebih baik untuk kedepan nya.
Kalian bisa pakai hide nama kalian dengan anonymous dikolom komentar untuk memberikan pendapat atau kritik dan saran.
Ingat! "Berharap itu boleh, tapi terlalu berharap itu tidak baik."





                                                                                                                                     Fever Writer.
                                                                                                                             Bumi, 18 Maret 2024.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar