Vano memilih pergi dari rumah nya setelah dinyatakan drop out dari sekolah SMK nya karena masalah yang dialami nya. Vano pergi dengan membawa derita anak pertama yang ditanggung dalam kebisuan, dan beban untuk membayar rasa kecewa kedua orang tua nya karena sudah gagal dalam pedidikannya.
Beberapa tahun "petualangan" nya membayar rasa kecewa kedua orang tuanya, Vano bertemu dengan wanita bernama Clara Evania, wanita yang dapat merubah sifatnya menjadi lebih dewasa.
Hingga ia dihadapkan oleh rasa kecewa karena Clara lebih memilih menikah dengan mantan pacarnya. Sehingga membuat Vano memutuskan untuk bekerja diluar negeri demi melupakan Clara wanita tersayangnya.
****
#000 PROLOG
"Vano, besok panggil orangtua kamu ke sekolah!" Seru pak Wijaya kepada Vano.
"Pak, emangnya gabisa selesai disini aja pak kasusnya? gausah sampe panggil orangtua saya pak." Vano memelas kepada pak Wijaya kepala sekolahnya.
"Gabisa. Kamu udah berkali-kali bikin kasus kaya begini, gaada kapoknya kamu."
"Yaudahlah pak, besok saya ajak orangtua saya ke sekolah."
"saya pamit dulu ya pak." Sambung Vano, seraya mencium tangan pak Wijaya.
Setelah keluar dari ruangan kepala sekolah. Vano langsung pulang menuju kerumah menggunakan sepeda motor matic pemberian ayahnya.
Setelah sampai dirumah, Vano langsung memberi tahu ibunya jika ia disuruh pak Wijaya untuk membawa orangtua nya ke sekolah esok hari.
"Mah, besok Vano disuruh ajak mamah ke sekolah."
"Astagfirullah, Kamu bikin masalah apalagi Van disekolah?." Seru bu Saras.
Memang bukan hanya sekali, Vano disuruh membawa orangtua nya ke sekolah. Karena Vano memang terkenal sering buat kasus disekolah nya. Mulai dari bolos sekolah berhari-hari, Merokok di lingkungan sekolah, sampai tawuran antar sekolah pun pernah ia lakukan.
"Vano ketangkep warga mah pas tawuran, terus dibebasin sama pihak sekolah." Vano coba menjelaskan kasusnya kali ini yang membuat dia harus mengajak orangtua nya untuk ke sekolah.
"Kamu tuh bener-bener ya, gaada kapoknya banget. Kamu ga kasihan sama mamah emang?." Bu Saras seakan sudah menyerah dengan Vano karena sering sekali anaknya ini membuat kasus di sekolahnya.
"Iya mah, maaf Vano sering bikin mamah kecewa." Vano sudah bisa berkata apa-apa lagi untuk meminta maaf kepada mamahnya.
****
Esok harinya, Vano dan bu Saras pergi ke sekolah untuk bertemu pak Wijaya, setelah sampai disekolah, mereka pun langsung menuju ruang kepala sekolah untuk bertemu pak Wijaya.
"Permisi pak." Bu Saras pun lantas mengetuk pintu ruangan kepala sekolah.
"Eh bu Saras, masuk bu." Pak Wijaya menyambut kedatangan bu Saras dan Vano seraya memberikan jabatan tangan ke bu Saras.
"Silahkan duduk bu Saras, dan Vano."
"Jadi gimana pak? anak saya Vano buat kasus apalagi disekolah?". Walaupun sudah tahu kasus apa yang dilakukan oleh Vano. Bu Saras tetap bertanya ke pak Wijaya sebatas untuk basa-basi.
"Jadi Vano ini kemarin tawuran bu, dan dia ditangkap warga yang kemudian warga menyerahkan ke pihak sekolah bu." Pak Wijaya coba menjelaskan.
"Soalnya Vano sudah kelas 12 kan pak sebentar lagi lulus." Bu Saras memohon agar Vano masih diberi kesempatan.
Mendengar pernyataan dari pak Wijaya, Vano seolah diterpa oleh petir di siang bolong.
Sementara Vano hanya diam sambil meratapi bagaimana jalan hidupnya setelah dia di drop out dari sekolahnya.
Bumi, 18 Maret 2024.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar