#001 Masukan Menjadi Dewasa
Sehari setelah kejadian drop out dari sekolah, Vano mencoba bertemu dengan Erik untuk sekedar curhat atau bahkan meminta saran dari temennya itu.
"Bang, dimana? gue mau ketemu curhat curhat aja gitu." Sebuah pesan singkat yang dikirim dari handphone Vano melalu Whatsapp.
Vano merebahkan badannya dikasur seraya menunggu balasan chat dari Erik.
Isi kepala nya penuh dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana hidupnya nanti?"
"Bagaimana mimpi besarnya akan dicapai?"
"Bagaimana ia membantu orang tuanya nanti?"
"Bagaimana ia bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya?"
"Bagaimana, Bagaimana, dan Bagaimana?"
"Gue dirumah nih Van, kesini aja kalo mau cerita. Pas banget dirumah cuma gue sendiri, bonyok gue lagi di Bogor." Sebuah pesan balasan yang ditunggu oleh Vano akhirnya muncul
"OK Otewe." Balas Vano singkat.
Keesokan harinya Vano bergegas meninggalkan rumahnya menuju rumah Erik.
15 menit berlalu, Vano sudah sampai di rumah Erik, Erik pun terlihat di depan rumahnya menunggu kehadiran Vano
"Wiihh akhirnya nyampe juga nih orang gila." Ucap Erik sambil merangkul Vano.
"Duduk sini Van, lo mau minum apa? Kopi atau Teh?." Lanjut Erik
"Aman bang nanti aja minumnya." Sahut Vano sambil duduk di kursi dekat Erik.
"Jadi, lu kenapa? tumben banget nih sok-sok-an curhat" Tanya Erik seraya meledek Vano
"Gue dipecat bang dari sekolah, gara gara kasus ribut kemarin." Vano coba menjelaskan masalahnya ke Erik.
"Nah kan, gue udah pernah bilang kalo udah kelas 12 tuh kurang kurangin ribut, kejadian juga kan." Erik seakan kecewa karena nasihatnya saat beberapa waktu lalu tidak dilakukan.
"Yah gimana bang, gue juga nyesel, gue udah bikin kecewa orangtua, udah bikin hilang mimpi mimpi yang gue coba raih." Vano coba menjelaskan kondisinya
"Terus lu mau ngapain setelah ini? masih mau jadi preman? masih mau jadi jagoan? masih mau nyusahin orangtua lu?." tanya Erik dengan nada sedikit tinggi.
"Engga bang gue udah gamau ngelakuin hal-hal itu lagi, gue mau bayar dosa gue ke mereka."
"Makanya gue kesini, gue mau minta saran atau barangkali lu bisa ajak gue kerja. Kerja apapun gue mau bang, gue udah gamau minta uang ke orangtua gue, gue udah gamau nyusahin mereka." sambung Vano
"Ya bagus kalo lo masih punya otak waras."
"Masalah kerjaan, kemarin gue ada temen butuh orang buat di tempat steam nya dia, nanti gue tanyain bisa atau engga buat masukin lo. Tapi, ya gitu duitnya kecil." sambung Erik.
"Gapapa bang berapapun bayarannya, yang penting gue bisa beli makan atau rokok dari uang gue sendiri." Jawab Vano
"Yaudah besok gue kabarin ye." Sahut Erik
Mereka melanjutkan obrolan dengan bertukar cerita hingga sore hari.
"Gue pamit pulang dulu ya, udah sore nih gaenak kalo nyampe rumah lewat maghrib." Pamit Vano.
"Oke Van, hati hati di jalan ya." Jawab Erik.
Vano pulang kerumah nya meninggalkan rumah Erik.
Seusai sampai di rumah, tidak banyak yang Vano lakukan, dia hanya menyendiri di kamarnya, seakan ia malu untuk bertemu orang lain, termasuk orangtua dan adik adiknya.
"Van, lowongan kerjanya masih ada nih, besok dateng ke steam motor yang deket sekolah SMK Harapan ya, nanti ketemu mas Ricky, bisa kan?." Sebuah pesan whatsapp dari Erik.
"Alhamdulillah makasih bang, siap!, besok gue kesana." Vano membalas pesan whatsapp Erik.
Sebuah harapan untuk membayar dosa muncul setelah pertemuan dengan Erik tadi siang.
Akankah Vano bisa sukses?, Atau hanya sekedar cukup untuk ia bisa makan atau membeli rokok untuk kebutuhan nya saja?
Ia tak tahu, yang jelas jalan baru hidupnya akan segera terbuka, Ia bisa keluar rumah dengan satu tujuan, iya, tujuan yang sudah sangat bulat, tujuan untuk membayar dosa untuk kedua Orangtua nya.
Fever Writer
Bumi, 13 Maret 2025.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar