Minggu, 29 Juni 2025

Love Different Religion || LDR (?)

Menyedihkan!
Dari masa lalu seorang laki-laki dengan nafsunya datang atas nama topeng cinta. dia berkata tentang ketuhanan, keagamaan, budaya juga dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Padahal tujuan sebenarnya adalah mengajak “selingkuh” dan merusak jalinan cinta orang lain yang (mungkin) pernah dicintainya. Kasihan tuhanmu yang kau jadikan topeng hanya demi pemuas nafsumu?

Ah tidak, itu bukan tuhan. Itu hanya tak lebih rayuan untuk mengajak pergi ke jurang kenistaan dan pemuas nafsumu. Cinta tak butuh agama, justru agama yang butuh cinta. Tapi malah kau memanfaatkan tuhan dan agama sebagai topeng untuk pemuas nafsumu. Ayolah, jangan bodoh. Masih lebih tinggi makna “cinta” daripada makna “agama” itu sendiri, karena semua “agama” yang ada di semesta tidak akan lahir tanpa adanya “cinta”. Tanyakan dalam hatimu sendiri, “Apa arti agama tanpa cinta?”.

Manusia tidak butuh sikap agamamu, manusia membutuhkan kelakuanmu yang bermoral, santun dan ikhlas disetiap tindakan yang kau lakukan. Tuhan yang butuh bagaimana caramu bersikap sebagai orang “ber-agama”.

Orang saling mencintai sama sekali tidak butuh agama yang sama, yang mereka butuhkan adalah “cinta” dan bagaimana mereka yang saling jatuh hati ini sebisa mungkin dapat bertahan hidup dengan “cinta” yang mereka miliki. Cinta bukan sekedar kata “aku cinta kamu”, cinta itu adalah kesatuan “aksi yang menimbulkan reaksi” yang terus berputar tanpa henti dan membentuk polar-polar energi untuk menjadi tahapan fisika. Dengan sendirinya mereka (cinta) bekerja secara fisika dengan gaya, daya, gravitasi dan semua kekuatan batiniah yang terkandung dalam cinta yang telah mereka sinergikan

Jadi sekali lagi saya jelaskan, jangan pernah meng-kambing hitam-kan agama dalam cinta, jika memang menurutmu agama tak lebih hanya sekedar kambing yang berwarna hitam. Ingat, Cinta yang melahirkan agama, dan harusnya agamalah yang meng-agung-kan cinta. Jangan dibalik!!!

Tuhan, nabi, rosul mana yang tak datang membawa cinta untuk menjadi sebuah agama? Oleh karena itu, jangan kemudian ketika cinta itu yang telah terbangun didalam batin atau hati setiap manusia, kemudian kau hancurkan pilar-pilar cinta itu dengan agamamu yang menurutmu paling benar. Pantaskah??? Dan apa kau sendiri bisa menjangkau pikiran Tuhanmu dengan kelakuanmu yang seperti itu?

benar menurut Tuhan atau benar menurut kamu sendiri yang dipengaruhi nafsu? Atau jangan-jangan kau sedang bermain tuhan-tuhanan?


"Agama bukan topeng atau politik untuk bersembunyi dibalik kemunafikan! terkecuali jika kamu adalah laknat!"


Cahayaku, aku masih membacamu. bahkan membaca lebih dalam, yang orang lain tidak bisa lihat darimu. Tapi maaf aku harus pergi, bukan meninggalkanmu, tapi hanya terlepas darimu, karena sesungguhnya aku sudah "mati", kau masih koma dan masih bisa sembuh. berjuanglah.

Ingatlah, aku hanya terlepas. Jika kau ingin mengambil sepotong mata yang telah kau berikan, ataupun melengkapi potongan itu dan meng-amanah-kan padaku, kau tau dimana harus mencari aku.


Tulisan ini ditulis oleh seorang Alien Atheis. Memposisikan diri sebagai Atheis bukan berarti tak ber-Tuhan atau ber-Agama, bisa jadi seorang atheis yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Shinto, Konghucu, Yahudi. Semua yang sangat menghormati agama dengan segala perbedaannya dan kesamaannya.
Dan mungkin saja penulis ini berpikir "apakah penting agamaku bagi kalian? dan pentingkah aku beragama tapi aku mempunyai sikap perusak dan bajingan?"

Jumat, 13 Juni 2025

Tentang Demam, dan Perjalanan Singkat Pulang dan Pergi

Ada satu keping yang melaung meminta tolong. Ada pula kerak yang sudah terbiasa melihat perginya tubuh-tubuh manusia. Yang nyatanya, aku lebih dari satu keping dan kerak-kerak itu. Aku butuh uluran tangan. Aku butuh tidak ditinggalkan dan pula aku sudah tidak ingin menjadi pemberi peringatan 'tuk cepat-cepat minggat.


Hampir 7 bulan aku kembali lagi ke kota lama. Tidak ada yang singgah, tidak pula meminta pertolongan sesiapa selain inang. Dihampirilah aku dengan sepi sunyi, perasaan yang sudah biasa aku lahap bulat-bulat. Namun sekarang, mereka lebih pahit dari biasanya. Nyatanya, aku ingin ditemani. Aku butuh ditolong. Tolong. Tolong. Tolong. Kepala berbisik. Seperti ingin sudah saja sampai sini. Seperti itu bentukannya.

Yang kubangun adalah cinderamata dari yang pernah tinggal. Dari seluruh ketakutanku kepada cinta dan dunia, kepada penolakan dan ditinggalkan. Maka aku obati seluruhku dengan sepuluh jariku saja. Dengan gigil demam tubuhku, dengan tergopoh tungkai kakiku, sampai suhu mereda, dan angka darah sudah sejajar rata-rata.

Tuhan, pintaku tempo lalu adalah menjadi berani akan dunia dan meminta. Tuhan, aku ingin lebih berani lagi dan dibukakan pintu hatinya untuk menerima seluruh pertolongan. Tuhan, apalah diri ini jika bukan seonggok daging yang gemar bersujud berselimut kemelut, meminta sejagat raya tanpa harus merasa rendah lagi seperti yang sudah-sudah? Tuhan, sekarang aku masih di kota kelahiranku, dan mungkin akan meninggalkan kota ini beberapa saat lagi. Untuk kali ini, hanya satu yang kupinta: kuatkanlah dan senyapkanlah seluruh berisik di kepala.