Jumat, 13 Juni 2025

Tentang Demam, dan Perjalanan Singkat Pulang dan Pergi

Ada satu keping yang melaung meminta tolong. Ada pula kerak yang sudah terbiasa melihat perginya tubuh-tubuh manusia. Yang nyatanya, aku lebih dari satu keping dan kerak-kerak itu. Aku butuh uluran tangan. Aku butuh tidak ditinggalkan dan pula aku sudah tidak ingin menjadi pemberi peringatan 'tuk cepat-cepat minggat.


Hampir 7 bulan aku kembali lagi ke kota lama. Tidak ada yang singgah, tidak pula meminta pertolongan sesiapa selain inang. Dihampirilah aku dengan sepi sunyi, perasaan yang sudah biasa aku lahap bulat-bulat. Namun sekarang, mereka lebih pahit dari biasanya. Nyatanya, aku ingin ditemani. Aku butuh ditolong. Tolong. Tolong. Tolong. Kepala berbisik. Seperti ingin sudah saja sampai sini. Seperti itu bentukannya.

Yang kubangun adalah cinderamata dari yang pernah tinggal. Dari seluruh ketakutanku kepada cinta dan dunia, kepada penolakan dan ditinggalkan. Maka aku obati seluruhku dengan sepuluh jariku saja. Dengan gigil demam tubuhku, dengan tergopoh tungkai kakiku, sampai suhu mereda, dan angka darah sudah sejajar rata-rata.

Tuhan, pintaku tempo lalu adalah menjadi berani akan dunia dan meminta. Tuhan, aku ingin lebih berani lagi dan dibukakan pintu hatinya untuk menerima seluruh pertolongan. Tuhan, apalah diri ini jika bukan seonggok daging yang gemar bersujud berselimut kemelut, meminta sejagat raya tanpa harus merasa rendah lagi seperti yang sudah-sudah? Tuhan, sekarang aku masih di kota kelahiranku, dan mungkin akan meninggalkan kota ini beberapa saat lagi. Untuk kali ini, hanya satu yang kupinta: kuatkanlah dan senyapkanlah seluruh berisik di kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar