Hai,
kau yang masih duduk di kursi belakang kelas, menatap papan tulis seperti menatap takdir yang belum bisa diselamatkan.
Aku tahu, hari itu kau tidak benar-benar menyerah.
Kau hanya terlalu bandel, terlalu keras kepala, terlalu bebas untuk dunia yang selalu ingin mengekangmu.
Kau masih ingat, kan?
Bagaimana setiap aturan terasa seperti rantai yang ingin kau patahkan.
Bagaimana teguran guru dan murid lain terdengar seperti ejekan yang berirama.
Dan bagaimana malam setelah kau diusir itu terasa seperti dunia menutup pintunya pelan-pelan di depan wajahmu.
Sekarang aku menulis surat ini dari negeri asing.
Tempat yang dulu hanya kita lihat dari layar HP, sambil berkata pelan:
“andaikan gue bisa ke sana.”
Ternyata bisa, bro.
Tapi rasanya gak seperti yang kita pikir.
Di sini gak ada piala.
Gak ada guru yang bangga.
Gak ada yang peduli kau siapa dulu — cuma jam kerja, kopi dingin, dan kepala yang terus mengulang tanya:
“udah cukup belum buat nebus semuanya?”
Aku pikir dengan merantau, aku bisa jadi versi yang lebih suci darimu.
Yang gak gagal.
Yang bisa bilang: “lihat, aku berhasil.”
Tapi ternyata, aku cuma versi lain dari kegagalan yang lebih dewasa.
Cuma sekarang, aku belajar memeluknya, bukan ngusirnya.
Kau tahu, dosa itu gak pernah hilang,
dia cuma tumbuh jadi bayangan yang jalan di belakangmu.
Tapi kali ini aku biarkan dia ikut —
biar kalau aku jatuh, ada yang ikut jatuh juga.
Jadi, untuk kau yang masih di bangku itu,
yang masih nunduk waktu nama dipanggil,
aku cuma mau bilang:
kita gak perlu jadi hebat untuk dimaafkan.
Kadang, cuma bertahan aja udah bentuk tobat yang paling jujur.
Jangan salah paham —
aku belum bahagia.
Aku cuma sedikit lebih tenang dari kemarin.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Sampai ketemu lagi di cermin,
– aku yang (masih) mencoba menebus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar