Dari masa lalu seorang laki-laki dengan nafsunya datang atas nama topeng cinta. dia berkata tentang ketuhanan, keagamaan, budaya juga dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Padahal tujuan sebenarnya adalah mengajak “selingkuh” dan merusak jalinan cinta orang lain yang (mungkin) pernah dicintainya. Kasihan tuhanmu yang kau jadikan topeng hanya demi pemuas nafsumu?
Ah tidak, itu bukan tuhan. Itu hanya tak lebih rayuan untuk mengajak pergi ke jurang kenistaan dan pemuas nafsumu. Cinta tak butuh agama, justru agama yang butuh cinta. Tapi malah kau memanfaatkan tuhan dan agama sebagai topeng untuk pemuas nafsumu. Ayolah, jangan bodoh. Masih lebih tinggi makna “cinta” daripada makna “agama” itu sendiri, karena semua “agama” yang ada di semesta tidak akan lahir tanpa adanya “cinta”. Tanyakan dalam hatimu sendiri, “Apa arti agama tanpa cinta?”.
Manusia tidak butuh sikap agamamu, manusia membutuhkan kelakuanmu yang bermoral, santun dan ikhlas disetiap tindakan yang kau lakukan. Tuhan yang butuh bagaimana caramu bersikap sebagai orang “ber-agama”.
Orang saling mencintai sama sekali tidak butuh agama yang sama, yang mereka butuhkan adalah “cinta” dan bagaimana mereka yang saling jatuh hati ini sebisa mungkin dapat bertahan hidup dengan “cinta” yang mereka miliki. Cinta bukan sekedar kata “aku cinta kamu”, cinta itu adalah kesatuan “aksi yang menimbulkan reaksi” yang terus berputar tanpa henti dan membentuk polar-polar energi untuk menjadi tahapan fisika. Dengan sendirinya mereka (cinta) bekerja secara fisika dengan gaya, daya, gravitasi dan semua kekuatan batiniah yang terkandung dalam cinta yang telah mereka sinergikan
Jadi sekali lagi saya jelaskan, jangan pernah meng-kambing hitam-kan agama dalam cinta, jika memang menurutmu agama tak lebih hanya sekedar kambing yang berwarna hitam. Ingat, Cinta yang melahirkan agama, dan harusnya agamalah yang meng-agung-kan cinta. Jangan dibalik!!!
Tuhan, nabi, rosul mana yang tak datang membawa cinta untuk menjadi sebuah agama? Oleh karena itu, jangan kemudian ketika cinta itu yang telah terbangun didalam batin atau hati setiap manusia, kemudian kau hancurkan pilar-pilar cinta itu dengan agamamu yang menurutmu paling benar. Pantaskah??? Dan apa kau sendiri bisa menjangkau pikiran Tuhanmu dengan kelakuanmu yang seperti itu?
benar menurut Tuhan atau benar menurut kamu sendiri yang dipengaruhi nafsu? Atau jangan-jangan kau sedang bermain tuhan-tuhanan?
"Agama bukan topeng atau politik untuk bersembunyi dibalik kemunafikan! terkecuali jika kamu adalah laknat!"
Cahayaku, aku masih membacamu. bahkan membaca lebih dalam, yang orang lain tidak bisa lihat darimu. Tapi maaf aku harus pergi, bukan meninggalkanmu, tapi hanya terlepas darimu, karena sesungguhnya aku sudah "mati", kau masih koma dan masih bisa sembuh. berjuanglah.
Ingatlah, aku hanya terlepas. Jika kau ingin mengambil sepotong mata yang telah kau berikan, ataupun melengkapi potongan itu dan meng-amanah-kan padaku, kau tau dimana harus mencari aku.
Tulisan ini ditulis oleh seorang Alien Atheis. Memposisikan diri sebagai Atheis bukan berarti tak ber-Tuhan atau ber-Agama, bisa jadi seorang atheis yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Shinto, Konghucu, Yahudi. Semua yang sangat menghormati agama dengan segala perbedaannya dan kesamaannya.
Dan mungkin saja penulis ini berpikir "apakah penting agamaku bagi kalian? dan pentingkah aku beragama tapi aku mempunyai sikap perusak dan bajingan?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar