Sabtu, 07 Maret 2026

3:15am

‎Di bawah langit magrib

‎Banyak manusia menyantap

‎Setelah ibadah satu hari penuh

‎Berbondong-bondong meraup dan

‎Menyebar doa panjang-panjang


‎Dua anak manusia di sana

‎Kehausan seperti anjing liar

‎Mencari mana jalan sunyi

‎Dari peradaban

‎Melumat satu sama lain

‎Kehabisan akal dan dikulum gulita dunia


‎Di bawah langit magrib

‎Terburu-buru mereka mencari

‎Meja makan, segelas air,

‎Sepiring kemenangan kecil, yang mereka sebut "berbuka".

‎Seharian mereka menahan lapar, menahan haus, menahan rokok, menahan kopi.

‎tapi tak pernah benar-benar menahan

‎jadi bangsat.


‎Mulut mereka kering, tenggorokan perih,

‎perut keroncongan,

‎namun lidahnya tetap tajam

‎mengiris sesamanya, seperti jalang yang tak pernah kenyang.


‎Aneh memang puasa ini—


‎Perut kosong

‎tapi kesombongan tetap gemuk


‎Haus

‎tapi kebencian tetap basah


‎Lapar

‎tapi kerakusan tak pernah mati.



‎Di bawah langit magrib

‎mereka akhirnya meneguk air

‎seperti baru menaklukkan dunia

‎padahal yang mereka kalahkan

‎cuma rasa lapar

‎selama beberapa jam saja.


‎Sementara di luar sana

‎manusia tetap mereka telan hidup-hidup

‎dengan tipu

‎dengan hinaan

‎dengan keserakahan

‎yang bahkan iblis pun mungkin malas menirunya.



‎Dan besok pagi

‎anjing-anjing yang sama

‎akan kembali berkeliaran di kota ini

‎puasa lagi

‎haus lagi

‎lapar lagi

‎tapi tetap saja

‎bajingan yang sama.

Minggu, 22 Februari 2026

9694

Ada masa ketika aku hidup seperti gunung yang menahan letusnya sendiri.
‎Gemuruh itu tak pernah benar-benar hilang—ia hanya belajar diam. Setiap kali kenangan menyentuh sudut-sudutnya, dada ini bergetar. Panasnya merambat pelan ke tekak, menggodok kata-kata yang tak sempat lahir, mengetuk bibir seperti ingin tumpah, namun tetap kutelan kembali.
‎Aku tidak membencimu.
‎Hanya saja ada bagian dari diriku yang lama tak kupeluk.
‎Sesak masih mencekik bahkan saat netra menatap layar. Sudah jauh berputar ‘tuk melancang mencari penawarnya, namun tapak kaki tetap saja membentuk denah punggungmu. Ini semua tidak adil. Sebab aku bertuliskan resep obat: diminum dua kali sehari, mengatur napas sedemikian rupa, menolak dan maherat acap kali lalang tiba.


‎Namun aku tidak akan pernah bisa membencimu.
‎Sebab aku dilahirkan oleh cinta di saat Inang dan Bapak senggama. Kepal jemariku masih hangat mimpi-mimpimu. Basah lidahku masih mengatasnamakan sehat dan sentausamu.
‎Namun aku sudah terlalu lama menggurati abai pada diri.
‎Maka langkah kaki sekarang ada di Ibu Kota Negara asing. Agak sedikit jauh, namun cukup bagiku merebah dan mencari arah pulang. Setidaknya tidak sejengkal tangan bayi berusia dua.
‎Namamu harum di dalam doaku.
‎Sebagai gantinya, kubiarkan lain jiwa bercerita tentang segala ihwal dirimu yang tak akan lagi kucoba poles seluruh retak dan sengkarutnya.


lalu biarlah mulutku dicumbu hina. biarkan ia beranakpinak akan Anjing dan bangsat. biarkan ia berlumuran sampah. biarkan ia mencaci sampai kering tenggorokannya. biar ia lepaskan seluruh kecewa yang tertumpuk sedari kali pertama air mata tiba. biarkan mulutku mengucap, 

“Apa yang kaucoba cari, Bangsat? Seluruh pasrah dan percayaku tertanam di tulang-tulangmu, Anjing. Kau ingin megah seperti apa lagi?” 


Biarkan bibir ini bersenggama dengan leleh api. Menari dan berputar sampai habis dimakan benci. Biarkan kepul asap memasuki paru-paru—hangus dibuatnya. Anjing. Biarkan aku menjadi yang paling jahat di atas tawang. Seluruh karangan baik-baik tentangmu sudah tertutup tepat di anak kelamuku. Mereka merayakannya, Bangsat. Aku umumkan kepada seluruh yang sejawat betapa kau membawa sukacita sedang luka semakin menganga. 

Biarkan sekarang aku menyelam di antara letup air mendidih. Melepuh seluruhku, sabur dengan segala yang kutahan atas dasar manusia. Aku bukan manusia. Aku setan. Iblis pun tunduk kepada tulisan-tulisanku. harga jiwaku sudah diobral habis-habisan, 

Kai, entah sudah dilucuti sampai ke mana tubuh ini dilihatnya. bersujud dan memohon dalam getar jemari

Kai, yang aku inginkan hanya keadilan dan kejelasan. warasku sudah tidak perawan, rasa syukurku sabur acap kali jiwa ini dipukul oleh kurangnya aku sebagai hamba

Kai, yang aku inginkan hanya keadilan dan kejelasan, raungku sudah habiskan nada mayornya, ia di sana melompat dan menari-nari dan asal tunjuk penaka dunia berputar untuknya

Kai, sekarang hanya tersisa entah dan apakah aku ini jika bukan hamba rendah diri yang harganya tidak laku lagi? Bangsat, Kai. Aku betul-betul kurang dari murah.


kiranya begitu, yang tersisa hanya getar gigi jemari dan melompatnya sesak, kau dengan lihai busukmu dan aku dengan beribu tahu yang disimpan rapi enggan kusebarkan. semoga hari selalu hangat, semoga mimpi tidak pernah berkarat.

kiranya begitu, obat penawar sudah ditebus, dan sisaku hanya tinggal menghitung waktu. entah berlubang pada apa, namun untuk kali ini, kupersiapkan segalanya. untuk matiku, untuk hidupku, dan untuk selesai semua yang di tengah-tengah jalan, semoga kau aman, Bangsat. Dan aku jua—semoga


Dua puluh enam tahun dan isinya kurang lebih seperti ini:

- Membuat waktu untuk diri sendiri adalah perlu. Walau hanya diam menatap langit-langit kamar selama dua jam.

- Ternyata cinta tidak pernah pergi. Ia selalu melingkar melilit pada tubuhku.

- Mandi air hangat selepas kerja, membakar dupa, membuat kopi hitam panas membantuku sedikit lebih waras.

- Sepakbola membawaku berkeliling tempat, bahkan pulai di Indonesia.

- Aku masih belum paham bagaimana token listrik bekerja.

- Berpisah dari rumah adalah hal yang tidak pernah aku sesali. Luasnya bandara dan jendelanya adalah penawar lukaku.

- Ternyata cinta tidak melulu membuat luka. Ia bisa merupa seperti teman dekatku dan pergi sendirian.

- Warung kopi dan ceracau malam sampai matahari datang mampu memperpanjang keinginanku untuk hidup.

- Beberapa lagu dari MORFEM jika dipersembahkan untuk diri sendiri ternyata bisa menghidupkan harapan

- Ternyata cinta tidak pernah pergi. Ia terus terikat dengan jemariku.

- Kota kelahiranku adalah satu kotak kecil yang siap meledak.

- Discord bisa menyembuhkan patah hati paling jahat

- Lagu dari Bernadya, Rose "Blackpink", Alicia Keys, ternyata bisa sangat relate dengan manusia yang katanya "Metal" ini.

- Membersihkan namanya, melindungi perannya.


Hai Kai, akhirnya kerangkeng meleleh jua. Suaraku naik setengah tingkat, tidurku dibanjiri lelap, setan-setan ’tak lagi bertengger pada pundak. 

Kai, akhirnya aku tidak ingin mati lagi. Setidaknya, menjadi hidup adalah hal yang menghangatkan sukma, mengusir durjana di jemala. Garis luka di lutut tanda kebodohan saat sekolah sudah hampir seluruhnya sirna, 

Kai. Bangga kah? Lihat, lihat, yang kukepal bukan lagi takut. Yang kulahap bukan lagi sengkarut. Kai, empat tahun, aku berusaha membersihkan puing-puing perang di sela-sela rusuk. Menyusuri jalanan, menebak-nebak ke mana arah pulang. Empat tahun, Kai. Aku mencekik leher sendiri. Meneguk sengsara, melahap luka-luka. 

Kai, akhirnya. Akhirnya aku bisa menjadi marah. Yang merajalela sampai ke selangkang—membuat diri ini yang paling liar. 

Kai, aku sedang marah. Namun yang syahdu masih tetap mengemban pada nadi. Aku masihlah aku yang keras dan kepala batu. Tapi, Kai, aku sedang marah dan tidak ada yang bisa menahanku atas apapun yang akan kucipta melalui gumpalan amarah itu. Kai, Anjing, ya?.

Sabtu, 01 November 2025

Macha : The blood of new

Hai,
kau yang masih duduk di kursi belakang kelas, menatap papan tulis seperti menatap takdir yang belum bisa diselamatkan.

Aku tahu, hari itu kau tidak benar-benar menyerah.
Kau hanya terlalu bandel, terlalu keras kepala, terlalu bebas untuk dunia yang selalu ingin mengekangmu.
Kau masih ingat, kan?
Bagaimana setiap aturan terasa seperti rantai yang ingin kau patahkan.
Bagaimana teguran guru dan murid lain terdengar seperti ejekan yang berirama.
Dan bagaimana malam setelah kau diusir itu terasa seperti dunia menutup pintunya pelan-pelan di depan wajahmu.

Sekarang aku menulis surat ini dari negeri asing.
Tempat yang dulu hanya kita lihat dari layar HP, sambil berkata pelan:
“andaikan gue bisa ke sana.”
Ternyata bisa, bro.
Tapi rasanya gak seperti yang kita pikir.
Di sini gak ada piala.
Gak ada guru yang bangga.
Gak ada yang peduli kau siapa dulu — cuma jam kerja, kopi dingin, dan kepala yang terus mengulang tanya:
“udah cukup belum buat nebus semuanya?”

Aku pikir dengan merantau, aku bisa jadi versi yang lebih suci darimu.
Yang gak gagal.
Yang bisa bilang: “lihat, aku berhasil.”
Tapi ternyata, aku cuma versi lain dari kegagalan yang lebih dewasa.
Cuma sekarang, aku belajar memeluknya, bukan ngusirnya.

Kau tahu, dosa itu gak pernah hilang,
dia cuma tumbuh jadi bayangan yang jalan di belakangmu.
Tapi kali ini aku biarkan dia ikut —
biar kalau aku jatuh, ada yang ikut jatuh juga.

Jadi, untuk kau yang masih di bangku itu,
yang masih nunduk waktu nama dipanggil,
aku cuma mau bilang:
kita gak perlu jadi hebat untuk dimaafkan.
Kadang, cuma bertahan aja udah bentuk tobat yang paling jujur.

Jangan salah paham —
aku belum bahagia.
Aku cuma sedikit lebih tenang dari kemarin.
Dan mungkin itu sudah cukup.

Sampai ketemu lagi di cermin,
– aku yang (masih) mencoba menebus.

Minggu, 29 Juni 2025

Love Different Religion || LDR (?)

Menyedihkan!
Dari masa lalu seorang laki-laki dengan nafsunya datang atas nama topeng cinta. dia berkata tentang ketuhanan, keagamaan, budaya juga dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Padahal tujuan sebenarnya adalah mengajak “selingkuh” dan merusak jalinan cinta orang lain yang (mungkin) pernah dicintainya. Kasihan tuhanmu yang kau jadikan topeng hanya demi pemuas nafsumu?

Ah tidak, itu bukan tuhan. Itu hanya tak lebih rayuan untuk mengajak pergi ke jurang kenistaan dan pemuas nafsumu. Cinta tak butuh agama, justru agama yang butuh cinta. Tapi malah kau memanfaatkan tuhan dan agama sebagai topeng untuk pemuas nafsumu. Ayolah, jangan bodoh. Masih lebih tinggi makna “cinta” daripada makna “agama” itu sendiri, karena semua “agama” yang ada di semesta tidak akan lahir tanpa adanya “cinta”. Tanyakan dalam hatimu sendiri, “Apa arti agama tanpa cinta?”.

Manusia tidak butuh sikap agamamu, manusia membutuhkan kelakuanmu yang bermoral, santun dan ikhlas disetiap tindakan yang kau lakukan. Tuhan yang butuh bagaimana caramu bersikap sebagai orang “ber-agama”.

Orang saling mencintai sama sekali tidak butuh agama yang sama, yang mereka butuhkan adalah “cinta” dan bagaimana mereka yang saling jatuh hati ini sebisa mungkin dapat bertahan hidup dengan “cinta” yang mereka miliki. Cinta bukan sekedar kata “aku cinta kamu”, cinta itu adalah kesatuan “aksi yang menimbulkan reaksi” yang terus berputar tanpa henti dan membentuk polar-polar energi untuk menjadi tahapan fisika. Dengan sendirinya mereka (cinta) bekerja secara fisika dengan gaya, daya, gravitasi dan semua kekuatan batiniah yang terkandung dalam cinta yang telah mereka sinergikan

Jadi sekali lagi saya jelaskan, jangan pernah meng-kambing hitam-kan agama dalam cinta, jika memang menurutmu agama tak lebih hanya sekedar kambing yang berwarna hitam. Ingat, Cinta yang melahirkan agama, dan harusnya agamalah yang meng-agung-kan cinta. Jangan dibalik!!!

Tuhan, nabi, rosul mana yang tak datang membawa cinta untuk menjadi sebuah agama? Oleh karena itu, jangan kemudian ketika cinta itu yang telah terbangun didalam batin atau hati setiap manusia, kemudian kau hancurkan pilar-pilar cinta itu dengan agamamu yang menurutmu paling benar. Pantaskah??? Dan apa kau sendiri bisa menjangkau pikiran Tuhanmu dengan kelakuanmu yang seperti itu?

benar menurut Tuhan atau benar menurut kamu sendiri yang dipengaruhi nafsu? Atau jangan-jangan kau sedang bermain tuhan-tuhanan?


"Agama bukan topeng atau politik untuk bersembunyi dibalik kemunafikan! terkecuali jika kamu adalah laknat!"


Cahayaku, aku masih membacamu. bahkan membaca lebih dalam, yang orang lain tidak bisa lihat darimu. Tapi maaf aku harus pergi, bukan meninggalkanmu, tapi hanya terlepas darimu, karena sesungguhnya aku sudah "mati", kau masih koma dan masih bisa sembuh. berjuanglah.

Ingatlah, aku hanya terlepas. Jika kau ingin mengambil sepotong mata yang telah kau berikan, ataupun melengkapi potongan itu dan meng-amanah-kan padaku, kau tau dimana harus mencari aku.


Tulisan ini ditulis oleh seorang Alien Atheis. Memposisikan diri sebagai Atheis bukan berarti tak ber-Tuhan atau ber-Agama, bisa jadi seorang atheis yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Shinto, Konghucu, Yahudi. Semua yang sangat menghormati agama dengan segala perbedaannya dan kesamaannya.
Dan mungkin saja penulis ini berpikir "apakah penting agamaku bagi kalian? dan pentingkah aku beragama tapi aku mempunyai sikap perusak dan bajingan?"

Jumat, 13 Juni 2025

Tentang Demam, dan Perjalanan Singkat Pulang dan Pergi

Ada satu keping yang melaung meminta tolong. Ada pula kerak yang sudah terbiasa melihat perginya tubuh-tubuh manusia. Yang nyatanya, aku lebih dari satu keping dan kerak-kerak itu. Aku butuh uluran tangan. Aku butuh tidak ditinggalkan dan pula aku sudah tidak ingin menjadi pemberi peringatan 'tuk cepat-cepat minggat.


Hampir 7 bulan aku kembali lagi ke kota lama. Tidak ada yang singgah, tidak pula meminta pertolongan sesiapa selain inang. Dihampirilah aku dengan sepi sunyi, perasaan yang sudah biasa aku lahap bulat-bulat. Namun sekarang, mereka lebih pahit dari biasanya. Nyatanya, aku ingin ditemani. Aku butuh ditolong. Tolong. Tolong. Tolong. Kepala berbisik. Seperti ingin sudah saja sampai sini. Seperti itu bentukannya.

Yang kubangun adalah cinderamata dari yang pernah tinggal. Dari seluruh ketakutanku kepada cinta dan dunia, kepada penolakan dan ditinggalkan. Maka aku obati seluruhku dengan sepuluh jariku saja. Dengan gigil demam tubuhku, dengan tergopoh tungkai kakiku, sampai suhu mereda, dan angka darah sudah sejajar rata-rata.

Tuhan, pintaku tempo lalu adalah menjadi berani akan dunia dan meminta. Tuhan, aku ingin lebih berani lagi dan dibukakan pintu hatinya untuk menerima seluruh pertolongan. Tuhan, apalah diri ini jika bukan seonggok daging yang gemar bersujud berselimut kemelut, meminta sejagat raya tanpa harus merasa rendah lagi seperti yang sudah-sudah? Tuhan, sekarang aku masih di kota kelahiranku, dan mungkin akan meninggalkan kota ini beberapa saat lagi. Untuk kali ini, hanya satu yang kupinta: kuatkanlah dan senyapkanlah seluruh berisik di kepala.

Jumat, 23 Mei 2025

Ephemeral

I need someone to talk about nothing. Drag me into endless laughter, to get to know that life itself is the most ridiculous joke. We need to be crazy to understand it.

I need someone who occupied my mind with nothing but smile. Maybe like an idiot. Wanna know why? Because I'm an imbecile who would cried over something if it doesn't has a good ending eventually.

I need someone who daft enough to ensure that happiness mere artificial. Anything that could be measured is not happiness. Anything that society called achievement is not happiness. Anything that makes people forget about themselves is not happiness. How come we would be happy if we are lost? Tell me how come. . . how can it be!

Then 'that crazy someone' would lecturing me that happiness is wordless. Happiness is we ourselves.

Since we are complete we don't need to describe a shit so called happiness.

I need a contagious laughter which filled up this labyrinth with silliness. The deep silliness which means everything.

I need a great crap that will trap me in delight. Crap yet genuine, as the sun which burn us up but we can do nothing because it's naturally important.

I. . .
 N. . .
   E. . .
     E. . .
       D. . .

Ah, it sounds like I need the whole universe. Everything.

Everything is nothing, isn't it?

Minggu, 11 Mei 2025

Dear Waktu

"Demi masa"
"Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian"
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran"
(QS. Al-Asr 1-3)



  Pertama-tama aku ingin berterimakasih kepada bung Fiersa Besari yang menulis sangat bagus mengenai perspektifnya pada waktu dalam buku Garis Waktu. Reflektif dan mengundang galau yang sama.

  Rupanya bukan aku saja yang cemas bahwa waktu, dengan segala otoritasnya, memperlakukan hidup manusia serupa rol film. Gulungan diputar, mengalami berbagai kejadian, sebentuk kenangan kemudian habis begitu saja sebagai ending sebuah cerita. Entah berapa miliar hidup yang telah dilumatnya menjadi papan nama dan gundukan tanah belaka.

  Bukan masalah, itu hakmu, waktu. Sepertinya pula kamu khusus diciptakan Tuhan untuk itu. Hanya ingin menguraikan sedikit pandanganku tentangmu. Betapapun cemasnya, aku juga tak bisa memungkiri kesempatan yang diberikan olehmu untuk mengerti. Mengerti berbagai macam hal, merasai warna-warni cerita yang membentuk kenangan, hingga akhirnya tak lagi eksis di dalammu.

  Setiap orang, mungkin telah dan akan menemukan definisinya tentangmu. Ada yang menganggap kamu itu ilusi, yang kita tak pernah tahu kapan dimulai dan berakhirnya. Ada yang menganggapmu nyata senyata-nyatanya kenyataan. Bahkan ada yang tidak menganggapmu sama sekali, dalam kata lain, kamu pun fana dan hanya bisa dihitung oleh mereka yang menempati dunia fisik saja.

  Aku sendiri belum menemukan definisi tentangmu. Lebih tepatnya masih plin-plan. Ketika seseorang membahas kefanaanmu, aku setuju. Lain hari, saat ada yang menganggapmu nyata, aku sepakat tanpa syarat. Maka boleh dibilang, aku tak paham pada dasarnya. Gagal mereduksimu menjadi satu  kalimat yang bisa dimengerti orang.

Selama ini tentangmu hanyalah:

1 menit = 60 detik
1 jam   = 60 menit
1 hari   = 24 jam
1 tahun = 365 hari

           Begitu saja.

   Sederhana memang, tapi, dalam kehidupan kamu selalu lebih dari itu. Kamu menamatkan riwayat orang-orang yang bahkan berusaha menguraikanmu. Orang-orang macam Einstein yang berbicara soal relativitas, Newton tentang gaya dan gravitasi, serta banyak lagi. Selanjutnya, kamu pun melahirkan manusia se-berani Soekarno, se-arif Mahatma Gandhi juga se-legenda Oda Nobunaga. Seolah-olah mereka sekadar perbendaharaan yang mengisi eksistensimu sesungguhnya.

  Semua luluh lantak di hadapanmu. Hangus tak bersisa selain karya-karya yang atas seizinmu akan dikenang sebagai sejarah dan teori. Tak ada yang bisa menyiasatimu dengan uang, rayuan bahkan ilmu-ilmu mereka.

            Dear waktu.

  Desember 2024, kamu menghadirkan seseorang yang menggenapi, menjadi "rumah" untuk pulang, di sisi lain merumitkan kehidupanku, mereka: kami. Tepat Februari di tahun selanjutnya, kamu menghancurkan hidupku dengan membuat dia pergi, "rumah" yang aku sayangi lebih dari apapun. Bahkan bila mungkin, lebih dari diriku sendiri. masih di Februari bulan sama lagi, tahun ini, tahun 2025, kamu merenggut temanku dengan cara yang aku gagal paham hingga sekarang. Dan itu membuatku takut bulan Februari, padahal sebelum nya Februari selalu ku tunggu karena menjadi momen ku bertambah usia. Pada masaku nanti, kamu juga akan menghibisiku dengan senjata yang kaupunya kan? Senjata berupa masa yang membuat bayi menjadi remaja, dewasa menjadi tua, hingga segala kekuatan masa muda melemah jadi pantangan-pantangan lalu berhenti pada mati (struktur umum, tapi mati adalah bab sendiri yang punya kepentingan terhadap nyawa manusia. Tak ada hubungannya dengan umur).

            Waktu,

  Apalah artiku di hadapanmu. Apapun kamu, telah terbukti bahwa manusia dengan segala miliknya tak pernah mampu mencegahmu. Kamu istimewa. Dan aku yang begitu kecil ini tak ingin terjebak dalam lingkaran definitif akanmu.

   Aku hanya tak ingin merugi. Karena ada sebuah surat yang secara khusus membahasmu, bahwa siapapun yang tidak memanfaatkanmu dengan bijak, akan ditenggelamkan oleh ulahnya sendiri. Meskipun aku belum memahamimu, perkenankan aku belajar agar tidak termasuk orang-orang merugi.

 Merugi, menakutkan bukan?