Ada masa ketika aku hidup seperti gunung yang menahan letusnya sendiri.
Gemuruh itu tak pernah benar-benar hilang—ia hanya belajar diam. Setiap kali kenangan menyentuh sudut-sudutnya, dada ini bergetar. Panasnya merambat pelan ke tekak, menggodok kata-kata yang tak sempat lahir, mengetuk bibir seperti ingin tumpah, namun tetap kutelan kembali.
Aku tidak membencimu.
Hanya saja ada bagian dari diriku yang lama tak kupeluk.
Sesak masih mencekik bahkan saat netra menatap layar. Sudah jauh berputar ‘tuk melancang mencari penawarnya, namun tapak kaki tetap saja membentuk denah punggungmu. Ini semua tidak adil. Sebab aku bertuliskan resep obat: diminum dua kali sehari, mengatur napas sedemikian rupa, menolak dan maherat acap kali lalang tiba.
Namun aku tidak akan pernah bisa membencimu.
Sebab aku dilahirkan oleh cinta di saat Inang dan Bapak senggama. Kepal jemariku masih hangat mimpi-mimpimu. Basah lidahku masih mengatasnamakan sehat dan sentausamu.
Namun aku sudah terlalu lama menggurati abai pada diri.
Maka langkah kaki sekarang ada di Ibu Kota Negara asing. Agak sedikit jauh, namun cukup bagiku merebah dan mencari arah pulang. Setidaknya tidak sejengkal tangan bayi berusia dua.
Namamu harum di dalam doaku.
Sebagai gantinya, kubiarkan lain jiwa bercerita tentang segala ihwal dirimu yang tak akan lagi kucoba poles seluruh retak dan sengkarutnya.
lalu biarlah mulutku dicumbu hina. biarkan ia beranakpinak akan Anjing dan bangsat. biarkan ia berlumuran sampah. biarkan ia mencaci sampai kering tenggorokannya. biar ia lepaskan seluruh kecewa yang tertumpuk sedari kali pertama air mata tiba. biarkan mulutku mengucap,
“Apa yang kaucoba cari, Bangsat? Seluruh pasrah dan percayaku tertanam di tulang-tulangmu, Anjing. Kau ingin megah seperti apa lagi?”
Biarkan bibir ini bersenggama dengan leleh api. Menari dan berputar sampai habis dimakan benci. Biarkan kepul asap memasuki paru-paru—hangus dibuatnya. Anjing. Biarkan aku menjadi yang paling jahat di atas tawang. Seluruh karangan baik-baik tentangmu sudah tertutup tepat di anak kelamuku. Mereka merayakannya, Bangsat. Aku umumkan kepada seluruh yang sejawat betapa kau membawa sukacita sedang luka semakin menganga.
Biarkan sekarang aku menyelam di antara letup air mendidih. Melepuh seluruhku, sabur dengan segala yang kutahan atas dasar manusia. Aku bukan manusia. Aku setan. Iblis pun tunduk kepada tulisan-tulisanku. harga jiwaku sudah diobral habis-habisan,
Kai, entah sudah dilucuti sampai ke mana tubuh ini dilihatnya. bersujud dan memohon dalam getar jemari
Kai, yang aku inginkan hanya keadilan dan kejelasan. warasku sudah tidak perawan, rasa syukurku sabur acap kali jiwa ini dipukul oleh kurangnya aku sebagai hamba
Kai, yang aku inginkan hanya keadilan dan kejelasan, raungku sudah habiskan nada mayornya, ia di sana melompat dan menari-nari dan asal tunjuk penaka dunia berputar untuknya
Kai, sekarang hanya tersisa entah dan apakah aku ini jika bukan hamba rendah diri yang harganya tidak laku lagi? Bangsat, Kai. Aku betul-betul kurang dari murah.
kiranya begitu, yang tersisa hanya getar gigi jemari dan melompatnya sesak, kau dengan lihai busukmu dan aku dengan beribu tahu yang disimpan rapi enggan kusebarkan. semoga hari selalu hangat, semoga mimpi tidak pernah berkarat.
kiranya begitu, obat penawar sudah ditebus, dan sisaku hanya tinggal menghitung waktu. entah berlubang pada apa, namun untuk kali ini, kupersiapkan segalanya. untuk matiku, untuk hidupku, dan untuk selesai semua yang di tengah-tengah jalan, semoga kau aman, Bangsat. Dan aku jua—semoga
Dua puluh enam tahun dan isinya kurang lebih seperti ini:
- Membuat waktu untuk diri sendiri adalah perlu. Walau hanya diam menatap langit-langit kamar selama dua jam.
- Ternyata cinta tidak pernah pergi. Ia selalu melingkar melilit pada tubuhku.
- Mandi air hangat selepas kerja, membakar dupa, membuat kopi hitam panas membantuku sedikit lebih waras.
- Sepakbola membawaku berkeliling tempat, bahkan pulai di Indonesia.
- Aku masih belum paham bagaimana token listrik bekerja.
- Berpisah dari rumah adalah hal yang tidak pernah aku sesali. Luasnya bandara dan jendelanya adalah penawar lukaku.
- Ternyata cinta tidak melulu membuat luka. Ia bisa merupa seperti teman dekatku dan pergi sendirian.
- Warung kopi dan ceracau malam sampai matahari datang mampu memperpanjang keinginanku untuk hidup.
- Beberapa lagu dari MORFEM jika dipersembahkan untuk diri sendiri ternyata bisa menghidupkan harapan
- Ternyata cinta tidak pernah pergi. Ia terus terikat dengan jemariku.
- Kota kelahiranku adalah satu kotak kecil yang siap meledak.
- Discord bisa menyembuhkan patah hati paling jahat
- Lagu dari Bernadya, Rose "Blackpink", Alicia Keys, ternyata bisa sangat relate dengan manusia yang katanya "Metal" ini.
- Membersihkan namanya, melindungi perannya.
Hai Kai, akhirnya kerangkeng meleleh jua. Suaraku naik setengah tingkat, tidurku dibanjiri lelap, setan-setan ’tak lagi bertengger pada pundak.
Kai, akhirnya aku tidak ingin mati lagi. Setidaknya, menjadi hidup adalah hal yang menghangatkan sukma, mengusir durjana di jemala. Garis luka di lutut tanda kebodohan saat sekolah sudah hampir seluruhnya sirna,
Kai. Bangga kah? Lihat, lihat, yang kukepal bukan lagi takut. Yang kulahap bukan lagi sengkarut. Kai, empat tahun, aku berusaha membersihkan puing-puing perang di sela-sela rusuk. Menyusuri jalanan, menebak-nebak ke mana arah pulang. Empat tahun, Kai. Aku mencekik leher sendiri. Meneguk sengsara, melahap luka-luka.
Kai, akhirnya. Akhirnya aku bisa menjadi marah. Yang merajalela sampai ke selangkang—membuat diri ini yang paling liar.
Kai, aku sedang marah. Namun yang syahdu masih tetap mengemban pada nadi. Aku masihlah aku yang keras dan kepala batu. Tapi, Kai, aku sedang marah dan tidak ada yang bisa menahanku atas apapun yang akan kucipta melalui gumpalan amarah itu. Kai, Anjing, ya?.