Di bawah langit magrib
Banyak manusia menyantap
Setelah ibadah satu hari penuh
Berbondong-bondong meraup dan
Menyebar doa panjang-panjang
Dua anak manusia di sana
Kehausan seperti anjing liar
Mencari mana jalan sunyi
Dari peradaban
Melumat satu sama lain
Kehabisan akal dan dikulum gulita dunia
Di bawah langit magrib
Terburu-buru mereka mencari
Meja makan, segelas air,
Sepiring kemenangan kecil, yang mereka sebut "berbuka".
Seharian mereka menahan lapar, menahan haus, menahan rokok, menahan kopi.
tapi tak pernah benar-benar menahan
jadi bangsat.
Mulut mereka kering, tenggorokan perih,
perut keroncongan,
namun lidahnya tetap tajam
mengiris sesamanya, seperti jalang yang tak pernah kenyang.
Aneh memang puasa ini—
Perut kosong
tapi kesombongan tetap gemuk
Haus
tapi kebencian tetap basah
Lapar
tapi kerakusan tak pernah mati.
Di bawah langit magrib
mereka akhirnya meneguk air
seperti baru menaklukkan dunia
padahal yang mereka kalahkan
cuma rasa lapar
selama beberapa jam saja.
Sementara di luar sana
manusia tetap mereka telan hidup-hidup
dengan tipu
dengan hinaan
dengan keserakahan
yang bahkan iblis pun mungkin malas menirunya.
Dan besok pagi
anjing-anjing yang sama
akan kembali berkeliaran di kota ini
puasa lagi
haus lagi
lapar lagi
tapi tetap saja
bajingan yang sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar