Sabtu, 01 November 2025

Macha : The blood of new

Hai,
kau yang masih duduk di kursi belakang kelas, menatap papan tulis seperti menatap takdir yang belum bisa diselamatkan.

Aku tahu, hari itu kau tidak benar-benar menyerah.
Kau hanya terlalu bandel, terlalu keras kepala, terlalu bebas untuk dunia yang selalu ingin mengekangmu.
Kau masih ingat, kan?
Bagaimana setiap aturan terasa seperti rantai yang ingin kau patahkan.
Bagaimana teguran guru dan murid lain terdengar seperti ejekan yang berirama.
Dan bagaimana malam setelah kau diusir itu terasa seperti dunia menutup pintunya pelan-pelan di depan wajahmu.

Sekarang aku menulis surat ini dari negeri asing.
Tempat yang dulu hanya kita lihat dari layar HP, sambil berkata pelan:
“andaikan gue bisa ke sana.”
Ternyata bisa, bro.
Tapi rasanya gak seperti yang kita pikir.
Di sini gak ada piala.
Gak ada guru yang bangga.
Gak ada yang peduli kau siapa dulu — cuma jam kerja, kopi dingin, dan kepala yang terus mengulang tanya:
“udah cukup belum buat nebus semuanya?”

Aku pikir dengan merantau, aku bisa jadi versi yang lebih suci darimu.
Yang gak gagal.
Yang bisa bilang: “lihat, aku berhasil.”
Tapi ternyata, aku cuma versi lain dari kegagalan yang lebih dewasa.
Cuma sekarang, aku belajar memeluknya, bukan ngusirnya.

Kau tahu, dosa itu gak pernah hilang,
dia cuma tumbuh jadi bayangan yang jalan di belakangmu.
Tapi kali ini aku biarkan dia ikut —
biar kalau aku jatuh, ada yang ikut jatuh juga.

Jadi, untuk kau yang masih di bangku itu,
yang masih nunduk waktu nama dipanggil,
aku cuma mau bilang:
kita gak perlu jadi hebat untuk dimaafkan.
Kadang, cuma bertahan aja udah bentuk tobat yang paling jujur.

Jangan salah paham —
aku belum bahagia.
Aku cuma sedikit lebih tenang dari kemarin.
Dan mungkin itu sudah cukup.

Sampai ketemu lagi di cermin,
– aku yang (masih) mencoba menebus.

Minggu, 29 Juni 2025

Love Different Religion || LDR (?)

Menyedihkan!
Dari masa lalu seorang laki-laki dengan nafsunya datang atas nama topeng cinta. dia berkata tentang ketuhanan, keagamaan, budaya juga dengan segala perbedaan yang ada didalamnya. Padahal tujuan sebenarnya adalah mengajak “selingkuh” dan merusak jalinan cinta orang lain yang (mungkin) pernah dicintainya. Kasihan tuhanmu yang kau jadikan topeng hanya demi pemuas nafsumu?

Ah tidak, itu bukan tuhan. Itu hanya tak lebih rayuan untuk mengajak pergi ke jurang kenistaan dan pemuas nafsumu. Cinta tak butuh agama, justru agama yang butuh cinta. Tapi malah kau memanfaatkan tuhan dan agama sebagai topeng untuk pemuas nafsumu. Ayolah, jangan bodoh. Masih lebih tinggi makna “cinta” daripada makna “agama” itu sendiri, karena semua “agama” yang ada di semesta tidak akan lahir tanpa adanya “cinta”. Tanyakan dalam hatimu sendiri, “Apa arti agama tanpa cinta?”.

Manusia tidak butuh sikap agamamu, manusia membutuhkan kelakuanmu yang bermoral, santun dan ikhlas disetiap tindakan yang kau lakukan. Tuhan yang butuh bagaimana caramu bersikap sebagai orang “ber-agama”.

Orang saling mencintai sama sekali tidak butuh agama yang sama, yang mereka butuhkan adalah “cinta” dan bagaimana mereka yang saling jatuh hati ini sebisa mungkin dapat bertahan hidup dengan “cinta” yang mereka miliki. Cinta bukan sekedar kata “aku cinta kamu”, cinta itu adalah kesatuan “aksi yang menimbulkan reaksi” yang terus berputar tanpa henti dan membentuk polar-polar energi untuk menjadi tahapan fisika. Dengan sendirinya mereka (cinta) bekerja secara fisika dengan gaya, daya, gravitasi dan semua kekuatan batiniah yang terkandung dalam cinta yang telah mereka sinergikan

Jadi sekali lagi saya jelaskan, jangan pernah meng-kambing hitam-kan agama dalam cinta, jika memang menurutmu agama tak lebih hanya sekedar kambing yang berwarna hitam. Ingat, Cinta yang melahirkan agama, dan harusnya agamalah yang meng-agung-kan cinta. Jangan dibalik!!!

Tuhan, nabi, rosul mana yang tak datang membawa cinta untuk menjadi sebuah agama? Oleh karena itu, jangan kemudian ketika cinta itu yang telah terbangun didalam batin atau hati setiap manusia, kemudian kau hancurkan pilar-pilar cinta itu dengan agamamu yang menurutmu paling benar. Pantaskah??? Dan apa kau sendiri bisa menjangkau pikiran Tuhanmu dengan kelakuanmu yang seperti itu?

benar menurut Tuhan atau benar menurut kamu sendiri yang dipengaruhi nafsu? Atau jangan-jangan kau sedang bermain tuhan-tuhanan?


"Agama bukan topeng atau politik untuk bersembunyi dibalik kemunafikan! terkecuali jika kamu adalah laknat!"


Cahayaku, aku masih membacamu. bahkan membaca lebih dalam, yang orang lain tidak bisa lihat darimu. Tapi maaf aku harus pergi, bukan meninggalkanmu, tapi hanya terlepas darimu, karena sesungguhnya aku sudah "mati", kau masih koma dan masih bisa sembuh. berjuanglah.

Ingatlah, aku hanya terlepas. Jika kau ingin mengambil sepotong mata yang telah kau berikan, ataupun melengkapi potongan itu dan meng-amanah-kan padaku, kau tau dimana harus mencari aku.


Tulisan ini ditulis oleh seorang Alien Atheis. Memposisikan diri sebagai Atheis bukan berarti tak ber-Tuhan atau ber-Agama, bisa jadi seorang atheis yang beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Shinto, Konghucu, Yahudi. Semua yang sangat menghormati agama dengan segala perbedaannya dan kesamaannya.
Dan mungkin saja penulis ini berpikir "apakah penting agamaku bagi kalian? dan pentingkah aku beragama tapi aku mempunyai sikap perusak dan bajingan?"

Jumat, 13 Juni 2025

Tentang Demam, dan Perjalanan Singkat Pulang dan Pergi

Ada satu keping yang melaung meminta tolong. Ada pula kerak yang sudah terbiasa melihat perginya tubuh-tubuh manusia. Yang nyatanya, aku lebih dari satu keping dan kerak-kerak itu. Aku butuh uluran tangan. Aku butuh tidak ditinggalkan dan pula aku sudah tidak ingin menjadi pemberi peringatan 'tuk cepat-cepat minggat.


Hampir 7 bulan aku kembali lagi ke kota lama. Tidak ada yang singgah, tidak pula meminta pertolongan sesiapa selain inang. Dihampirilah aku dengan sepi sunyi, perasaan yang sudah biasa aku lahap bulat-bulat. Namun sekarang, mereka lebih pahit dari biasanya. Nyatanya, aku ingin ditemani. Aku butuh ditolong. Tolong. Tolong. Tolong. Kepala berbisik. Seperti ingin sudah saja sampai sini. Seperti itu bentukannya.

Yang kubangun adalah cinderamata dari yang pernah tinggal. Dari seluruh ketakutanku kepada cinta dan dunia, kepada penolakan dan ditinggalkan. Maka aku obati seluruhku dengan sepuluh jariku saja. Dengan gigil demam tubuhku, dengan tergopoh tungkai kakiku, sampai suhu mereda, dan angka darah sudah sejajar rata-rata.

Tuhan, pintaku tempo lalu adalah menjadi berani akan dunia dan meminta. Tuhan, aku ingin lebih berani lagi dan dibukakan pintu hatinya untuk menerima seluruh pertolongan. Tuhan, apalah diri ini jika bukan seonggok daging yang gemar bersujud berselimut kemelut, meminta sejagat raya tanpa harus merasa rendah lagi seperti yang sudah-sudah? Tuhan, sekarang aku masih di kota kelahiranku, dan mungkin akan meninggalkan kota ini beberapa saat lagi. Untuk kali ini, hanya satu yang kupinta: kuatkanlah dan senyapkanlah seluruh berisik di kepala.

Jumat, 23 Mei 2025

Ephemeral

I need someone to talk about nothing. Drag me into endless laughter, to get to know that life itself is the most ridiculous joke. We need to be crazy to understand it.

I need someone who occupied my mind with nothing but smile. Maybe like an idiot. Wanna know why? Because I'm an imbecile who would cried over something if it doesn't has a good ending eventually.

I need someone who daft enough to ensure that happiness mere artificial. Anything that could be measured is not happiness. Anything that society called achievement is not happiness. Anything that makes people forget about themselves is not happiness. How come we would be happy if we are lost? Tell me how come. . . how can it be!

Then 'that crazy someone' would lecturing me that happiness is wordless. Happiness is we ourselves.

Since we are complete we don't need to describe a shit so called happiness.

I need a contagious laughter which filled up this labyrinth with silliness. The deep silliness which means everything.

I need a great crap that will trap me in delight. Crap yet genuine, as the sun which burn us up but we can do nothing because it's naturally important.

I. . .
 N. . .
   E. . .
     E. . .
       D. . .

Ah, it sounds like I need the whole universe. Everything.

Everything is nothing, isn't it?

Minggu, 11 Mei 2025

Dear Waktu

"Demi masa"
"Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian"
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran"
(QS. Al-Asr 1-3)



  Pertama-tama aku ingin berterimakasih kepada bung Fiersa Besari yang menulis sangat bagus mengenai perspektifnya pada waktu dalam buku Garis Waktu. Reflektif dan mengundang galau yang sama.

  Rupanya bukan aku saja yang cemas bahwa waktu, dengan segala otoritasnya, memperlakukan hidup manusia serupa rol film. Gulungan diputar, mengalami berbagai kejadian, sebentuk kenangan kemudian habis begitu saja sebagai ending sebuah cerita. Entah berapa miliar hidup yang telah dilumatnya menjadi papan nama dan gundukan tanah belaka.

  Bukan masalah, itu hakmu, waktu. Sepertinya pula kamu khusus diciptakan Tuhan untuk itu. Hanya ingin menguraikan sedikit pandanganku tentangmu. Betapapun cemasnya, aku juga tak bisa memungkiri kesempatan yang diberikan olehmu untuk mengerti. Mengerti berbagai macam hal, merasai warna-warni cerita yang membentuk kenangan, hingga akhirnya tak lagi eksis di dalammu.

  Setiap orang, mungkin telah dan akan menemukan definisinya tentangmu. Ada yang menganggap kamu itu ilusi, yang kita tak pernah tahu kapan dimulai dan berakhirnya. Ada yang menganggapmu nyata senyata-nyatanya kenyataan. Bahkan ada yang tidak menganggapmu sama sekali, dalam kata lain, kamu pun fana dan hanya bisa dihitung oleh mereka yang menempati dunia fisik saja.

  Aku sendiri belum menemukan definisi tentangmu. Lebih tepatnya masih plin-plan. Ketika seseorang membahas kefanaanmu, aku setuju. Lain hari, saat ada yang menganggapmu nyata, aku sepakat tanpa syarat. Maka boleh dibilang, aku tak paham pada dasarnya. Gagal mereduksimu menjadi satu  kalimat yang bisa dimengerti orang.

Selama ini tentangmu hanyalah:

1 menit = 60 detik
1 jam   = 60 menit
1 hari   = 24 jam
1 tahun = 365 hari

           Begitu saja.

   Sederhana memang, tapi, dalam kehidupan kamu selalu lebih dari itu. Kamu menamatkan riwayat orang-orang yang bahkan berusaha menguraikanmu. Orang-orang macam Einstein yang berbicara soal relativitas, Newton tentang gaya dan gravitasi, serta banyak lagi. Selanjutnya, kamu pun melahirkan manusia se-berani Soekarno, se-arif Mahatma Gandhi juga se-legenda Oda Nobunaga. Seolah-olah mereka sekadar perbendaharaan yang mengisi eksistensimu sesungguhnya.

  Semua luluh lantak di hadapanmu. Hangus tak bersisa selain karya-karya yang atas seizinmu akan dikenang sebagai sejarah dan teori. Tak ada yang bisa menyiasatimu dengan uang, rayuan bahkan ilmu-ilmu mereka.

            Dear waktu.

  Desember 2024, kamu menghadirkan seseorang yang menggenapi, menjadi "rumah" untuk pulang, di sisi lain merumitkan kehidupanku, mereka: kami. Tepat Februari di tahun selanjutnya, kamu menghancurkan hidupku dengan membuat dia pergi, "rumah" yang aku sayangi lebih dari apapun. Bahkan bila mungkin, lebih dari diriku sendiri. masih di Februari bulan sama lagi, tahun ini, tahun 2025, kamu merenggut temanku dengan cara yang aku gagal paham hingga sekarang. Dan itu membuatku takut bulan Februari, padahal sebelum nya Februari selalu ku tunggu karena menjadi momen ku bertambah usia. Pada masaku nanti, kamu juga akan menghibisiku dengan senjata yang kaupunya kan? Senjata berupa masa yang membuat bayi menjadi remaja, dewasa menjadi tua, hingga segala kekuatan masa muda melemah jadi pantangan-pantangan lalu berhenti pada mati (struktur umum, tapi mati adalah bab sendiri yang punya kepentingan terhadap nyawa manusia. Tak ada hubungannya dengan umur).

            Waktu,

  Apalah artiku di hadapanmu. Apapun kamu, telah terbukti bahwa manusia dengan segala miliknya tak pernah mampu mencegahmu. Kamu istimewa. Dan aku yang begitu kecil ini tak ingin terjebak dalam lingkaran definitif akanmu.

   Aku hanya tak ingin merugi. Karena ada sebuah surat yang secara khusus membahasmu, bahwa siapapun yang tidak memanfaatkanmu dengan bijak, akan ditenggelamkan oleh ulahnya sendiri. Meskipun aku belum memahamimu, perkenankan aku belajar agar tidak termasuk orang-orang merugi.

 Merugi, menakutkan bukan?

Selasa, 06 Mei 2025

?

Sometimes we don't get ourselves. Sometimes we live just because we are alive. Do nothing that meant to be something. Purely useless like the definition of scum.

Actually,
It's freaking me out.

Everything seems so temporary. Too temporal that you couldn't keep anything you like to stay longer than it should be. You couldn't hanging out with the buddies of yours overlong, you can't depends on your parents forever, because the word forever itself was never exist.
Hence, you should not attached too much to any being on this earth.

Yeah, we should not attached to anyone.

We shouldn’t. We couldn’t.

Actually,
It's freaking me out.

Jumat, 14 Maret 2025

Metánoia #001

         #001 Masukan Menjadi Dewasa


    Sehari setelah kejadian drop out dari sekolah, Vano mencoba bertemu dengan Erik untuk sekedar curhat atau bahkan meminta saran dari temennya itu.

"Bang, dimana? gue mau ketemu curhat curhat aja gitu." Sebuah pesan singkat yang dikirim dari handphone Vano melalu Whatsapp.

Vano merebahkan badannya dikasur seraya menunggu balasan chat dari Erik.

Isi kepala nya penuh dengan berbagai pertanyaan.
"Bagaimana hidupnya nanti?"
"Bagaimana mimpi besarnya akan dicapai?"
"Bagaimana ia membantu orang tuanya nanti?"
"Bagaimana ia bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya?"

"Bagaimana, Bagaimana, dan Bagaimana?"


"Gue dirumah nih Van, kesini aja kalo mau cerita. Pas banget dirumah cuma gue sendiri, bonyok gue lagi di Bogor." Sebuah pesan balasan yang ditunggu oleh Vano akhirnya muncul

"OK Otewe." Balas Vano singkat.


Keesokan harinya Vano bergegas meninggalkan rumahnya menuju rumah Erik.

15 menit berlalu, Vano sudah sampai di rumah Erik, Erik pun terlihat di depan rumahnya menunggu kehadiran Vano

"Wiihh akhirnya nyampe juga nih orang gila." Ucap Erik sambil merangkul Vano.

"Duduk sini Van, lo mau minum apa? Kopi atau Teh?." Lanjut Erik

"Aman bang nanti aja minumnya." Sahut Vano sambil duduk di kursi dekat Erik.

"Jadi, lu kenapa? tumben banget nih sok-sok-an curhat" Tanya Erik seraya meledek Vano

"Gue dipecat bang dari sekolah, gara gara kasus ribut kemarin." Vano coba menjelaskan masalahnya ke Erik.

"Nah kan, gue udah pernah bilang kalo udah kelas 12 tuh kurang kurangin ribut, kejadian juga kan." Erik seakan kecewa karena nasihatnya saat beberapa waktu lalu tidak dilakukan.

"Yah gimana bang, gue juga nyesel, gue udah bikin kecewa orangtua, udah bikin hilang mimpi mimpi yang gue coba raih." Vano coba menjelaskan kondisinya

"Terus lu mau ngapain setelah ini? masih mau jadi preman? masih mau jadi jagoan? masih mau nyusahin orangtua lu?." tanya Erik dengan nada sedikit tinggi.

"Engga bang gue udah gamau ngelakuin hal-hal itu lagi, gue mau bayar dosa gue ke mereka."

"Makanya gue kesini, gue mau minta saran atau barangkali lu bisa ajak gue kerja. Kerja apapun gue mau bang, gue udah gamau minta uang ke orangtua gue, gue udah gamau nyusahin mereka." sambung Vano

"Ya bagus kalo lo masih punya otak waras."

"Masalah kerjaan, kemarin gue ada temen butuh orang buat di tempat steam nya dia, nanti gue tanyain bisa atau engga buat masukin lo. Tapi, ya gitu duitnya kecil." sambung Erik.

"Gapapa bang berapapun bayarannya, yang penting gue bisa beli makan atau rokok dari uang gue sendiri." Jawab Vano

"Yaudah besok gue kabarin ye." Sahut Erik

Mereka melanjutkan obrolan dengan bertukar cerita hingga sore hari.

"Gue pamit pulang dulu ya, udah sore nih gaenak kalo nyampe rumah lewat maghrib." Pamit Vano.

"Oke Van, hati hati di jalan ya." Jawab Erik.


Vano pulang kerumah nya meninggalkan rumah Erik.

Seusai sampai di rumah, tidak banyak yang Vano lakukan, dia hanya menyendiri di kamarnya, seakan ia malu untuk bertemu orang lain, termasuk orangtua dan adik adiknya.

"Van, lowongan kerjanya masih ada nih, besok dateng ke steam motor yang deket sekolah SMK Harapan ya, nanti ketemu mas Ricky, bisa kan?." Sebuah pesan whatsapp dari Erik.

"Alhamdulillah makasih bang, siap!, besok gue kesana." Vano membalas pesan whatsapp Erik.


Sebuah harapan untuk membayar dosa muncul setelah pertemuan dengan Erik tadi siang.

Akankah Vano bisa sukses?, Atau hanya sekedar cukup untuk ia bisa makan atau membeli rokok untuk kebutuhan nya saja?

Ia tak tahu, yang jelas jalan baru hidupnya akan segera terbuka, Ia bisa keluar rumah dengan satu tujuan, iya, tujuan yang sudah sangat bulat, tujuan untuk membayar dosa untuk kedua Orangtua nya.




Fever Writer



Bumi, 13 Maret 2025.