Sabtu, 07 Maret 2026

3:15am

‎Di bawah langit magrib

‎Banyak manusia menyantap

‎Setelah ibadah satu hari penuh

‎Berbondong-bondong meraup dan

‎Menyebar doa panjang-panjang


‎Dua anak manusia di sana

‎Kehausan seperti anjing liar

‎Mencari mana jalan sunyi

‎Dari peradaban

‎Melumat satu sama lain

‎Kehabisan akal dan dikulum gulita dunia


‎Di bawah langit magrib

‎Terburu-buru mereka mencari

‎Meja makan, segelas air,

‎Sepiring kemenangan kecil, yang mereka sebut "berbuka".

‎Seharian mereka menahan lapar, menahan haus, menahan rokok, menahan kopi.

‎tapi tak pernah benar-benar menahan

‎jadi bangsat.


‎Mulut mereka kering, tenggorokan perih,

‎perut keroncongan,

‎namun lidahnya tetap tajam

‎mengiris sesamanya, seperti jalang yang tak pernah kenyang.


‎Aneh memang puasa ini—


‎Perut kosong

‎tapi kesombongan tetap gemuk


‎Haus

‎tapi kebencian tetap basah


‎Lapar

‎tapi kerakusan tak pernah mati.



‎Di bawah langit magrib

‎mereka akhirnya meneguk air

‎seperti baru menaklukkan dunia

‎padahal yang mereka kalahkan

‎cuma rasa lapar

‎selama beberapa jam saja.


‎Sementara di luar sana

‎manusia tetap mereka telan hidup-hidup

‎dengan tipu

‎dengan hinaan

‎dengan keserakahan

‎yang bahkan iblis pun mungkin malas menirunya.



‎Dan besok pagi

‎anjing-anjing yang sama

‎akan kembali berkeliaran di kota ini

‎puasa lagi

‎haus lagi

‎lapar lagi

‎tapi tetap saja

‎bajingan yang sama.